Transformasi Pertanian di Era Digital: Menjadikan Teknologi sebagai Mitra Petani
Oleh: Moh Rizwan Rizal S.P.
Teknologi tidak menggantikan pengalaman petani. Teknologi membantu pengalaman tersebut menjadi lebih tajam, terukur, dan didukung oleh informasi yang tepat.
Selama bertahun-tahun, petani mengandalkan pengalaman untuk membaca perubahan cuaca, mengenali gejala serangan hama, menentukan waktu tanam, memilih pupuk, hingga memperkirakan hasil panen. Pengetahuan tersebut merupakan aset penting yang terbentuk dari proses belajar panjang di lapangan.
Namun, pertanian hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan cuaca semakin sulit diprediksi, organisme pengganggu tanaman berkembang dengan beragam pola, biaya produksi meningkat, sementara tuntutan terhadap efisiensi dan kualitas produk semakin tinggi.
Di tengah kondisi tersebut, muncul satu pertanyaan penting: mampukah teknologi digital membantu petani mengambil keputusan yang lebih baik?
Jawabannya adalah bisa. Namun, teknologi hanya akan memberikan manfaat apabila digunakan untuk menjawab persoalan nyata di lahan.
Bukan Sekadar Memiliki Smartphone
Transformasi digital di sektor pertanian sering kali disalahartikan sebagai sekadar kemampuan menggunakan smartphone dan internet. Padahal, digitalisasi pertanian memiliki makna yang jauh lebih luas.
Bagi seorang petani, teknologi digital seharusnya dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis:
Kapan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan budidaya?
Apakah tanaman mengalami serangan hama atau penyakit?
Berapa kebutuhan pupuk?
Bagaimana memperoleh informasi teknis yang dapat dipercaya?
Dan bagaimana keputusan tersebut dapat mengurangi risiko serta biaya produksi?
Dalam konteks inilah teknologi digital menjadi alat pendukung pengambilan keputusan.
Program Pelatihan dan Pendampingan Jaringan Fasilitator Adopsi Teknologi Digital yang dilaksanakan oleh BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama PT Bina Swadaya Konsultan menunjukkan pendekatan tersebut. Salah satu materi yang diberikan secara khusus membahas pemanfaatan aplikasi digital untuk petani, termasuk informasi mengenai cuaca, iklim, proses produksi pertanian, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Artinya, digitalisasi tidak berhenti pada “petani bisa menggunakan aplikasi”, tetapi diarahkan pada “petani mampu menggunakan informasi dari aplikasi untuk mendukung keputusan usaha tani.”
Ketika Penyakit Tanaman Bisa “Dibaca” dari Kamera
Salah satu contoh menarik adalah pemanfaatan aplikasi Plantix.
Aplikasi ini diperkenalkan dalam pelatihan sebagai salah satu contoh teknologi pertanian berbasis kecerdasan buatan (AI). Plantix dapat membantu mengidentifikasi penyakit tanaman melalui foto, memberikan informasi mengenai pengendalian hama dan penyakit, menyediakan informasi budidaya, menghitung kebutuhan pupuk, serta menyediakan ruang interaksi dengan komunitas petani.
Bayangkan, seorang petani dapat mengetahui daun tanaman yang menunjukkan gejala tidak normal hanya melalui foto.
Dahulu, pilihan yang mungkin dilakukan adalah bertanya kepada petani lain, mencari informasi dari penyuluh, atau mencoba mengenali penyakit berdasarkan pengalaman. Semua cara tersebut tetap penting. Namun, teknologi dapat menjadi sumber informasi tambahan yang dapat digunakan sebelum mengambil keputusan.
Petani dapat memotret bagian tanaman yang mengalami gejala, dan menggunakan aplikasi untuk memperoleh informasi awal mengenai kemungkinan permasalahan yang terjadi.
Tetapi ada satu prinsip penting: teknologi bukan pengganti penyuluh maupun pengalaman lapangan.
Hasil identifikasi aplikasi perlu dibandingkan dengan kondisi tanaman sebenarnya, riwayat budidaya, kondisi lingkungan, serta rekomendasi tenaga teknis. Dengan pendekatan tersebut, teknologi menjadi alat bantu diagnosis awal, bukan satu-satunya dasar keputusan.
Inilah cara berpikir yang perlu dibangun dalam digitalisasi pertanian.
Cuaca: Informasi Kecil yang Bisa Mengubah Keputusan Besar
Dalam pertanian, cuaca bukan sekadar informasi apakah hari ini akan turun hujan atau tidak.
Informasi cuaca dapat memengaruhi berbagai keputusan budidaya.
Kapan melakukan penyemprotan?
Kapan melakukan pemupukan?
Kapan melakukan penyiraman?
Kapan melakukan pekerjaan di lahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki konsekuensi ekonomi.
Misalnya, penyemprotan pestisida menjelang hujan dapat menyebabkan bahan yang diaplikasikan tidak bekerja secara optimal. Pada akhirnya, petani berpotensi mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan penyemprotan kembali.
Begitu pula dengan pemupukan. Waktu aplikasi perlu mempertimbangkan kondisi lahan dan cuaca agar input yang diberikan dapat dimanfaatkan tanaman secara optimal.
Karena itu, akses terhadap informasi cuaca dapat membantu petani melakukan perencanaan kegiatan budidaya secara lebih baik. Modul pelatihan yang dikembangkan dalam program ini menekankan pemanfaatan informasi cuaca untuk membantu menentukan waktu tanam, penyiraman, menghindari penyemprotan ketika hujan diperkirakan terjadi, serta mengurangi risiko kerugian akibat kondisi cuaca.
Dengan kata lain, informasi cuaca bukan sekadar angka di layar smartphone. Ia merupakan salah satu input dalam proses pengambilan keputusan usaha tani.
Dari “Feeling” Menuju “Data-Assisted Farming”
Petani memiliki pengalaman dan itu tidak perlu diperdebatkan. Petani yang telah puluhan tahun mengelola lahannya memiliki kemampuan membaca kondisi tanaman dan lingkungan yang sering kali tidak dapat diperoleh hanya dari sebuah aplikasi.
Namun, tantangan pertanian modern menuntut kombinasi antara pengalaman dan informasi. Inilah yang dapat disebut sebagai pendekatan data-assisted farming: keputusan tetap berada pada petani, tetapi keputusan tersebut diperkuat oleh data dan informasi yang tersedia.
Contohnya sederhana. Petani memiliki pengalaman bahwa suatu lahan biasanya mulai ditanami pada periode tertentu. Informasi cuaca kemudian digunakan untuk melihat kondisi aktual dan perkiraan ke depan.
Data kondisi tanaman digunakan untuk menentukan kebutuhan pemeliharaan. Informasi harga dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pemasaran.
Ketika berbagai informasi tersebut digunakan bersama pengalaman petani, keputusan menjadi lebih komprehensif. Teknologi bukan mengambil alih keputusan petani. Teknologi memperkaya dasar pengambilan keputusan petani.
Digitalisasi harus berangkat dari masalah di lahan. Sebagai konsultan pertanian, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mendorong digitalisasi adalah menghindari pendekatan technology push.
Jangan memulai dengan pertanyaan:
“Aplikasi apa yang harus digunakan petani?”
Lebih tepat jika dimulai dengan:
“Masalah apa yang sedang dihadapi petani dan teknologi apa yang dapat membantu menyelesaikannya?”
Jika masalahnya adalah sulit mengenali penyakit tanaman, maka teknologi identifikasi penyakit dapat menjadi solusi. Jika masalahnya adalah ketidakpastian cuaca, maka akses informasi cuaca menjadi relevan. Jika masalahnya adalah pemasaran yang terbatas, digital marketing dan marketplace dapat menjadi bagian dari solusi.
Pendekatan semacam ini membuat teknologi menjadi relevan, bukan sekadar menjadi sesuatu yang terlihat modern.
Tantangan terbesar bukan teknologinya, tetapi adopsinya. Memiliki akses internet tidak otomatis membuat masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.
Pengalaman pelaksanaan program BAKTI Komdigi bersama Bina Swadaya Konsultan menunjukkan bahwa salah satu tantangan pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian adalah keterbatasan literasi dan keterampilan digital, akses terhadap informasi yang relevan, serta kemampuan menggunakan aplikasi dan platform digital.
Pada pelaksanaan program, pendekatan Training of Trainers (ToT) digunakan untuk membentuk fasilitator lokal yang diharapkan mampu membantu kelompok tani dan nelayan mengadopsi teknologi digital. Materi tidak hanya berisi penggunaan teknologi, tetapi juga literasi digital, keamanan digital, komunikasi, digital marketing, pencatatan keuangan, serta teknik fasilitasi masyarakat.
Pendekatan ini penting. Sebab, seorang petani mungkin dapat mengunduh sebuah aplikasi dalam beberapa menit. Namun, mengubah aplikasi tersebut menjadi kebiasaan dan keputusan usaha tani membutuhkan proses pendampingan.
Petani Masa Depan Bukan yang Paling Canggih, tetapi yang Paling Adaptif.
Kita tidak perlu membayangkan masa depan pertanian sebagai pertanian yang seluruhnya dikendalikan oleh robot atau kecerdasan buatan. Masa depan pertanian justru dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana:
seorang petani menggunakan smartphone untuk membaca cuaca sebelum melakukan penyemprotan;
memotret tanaman untuk memperoleh informasi awal mengenai gejala penyakit;
mencari informasi teknis budidaya sebelum mengambil keputusan;
mencatat pemasukan dan pengeluaran usaha;
mempromosikan produknya melalui media digital;
atau berdiskusi dengan petani lain tanpa harus berada di tempat yang sama.
Perubahan tersebut terlihat sederhana. Namun, apabila dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan petani, dampaknya dapat menjadi sangat besar.
Farmer standing in a rice field with a tablet.
Dari Smartphone Menjadi “Teman Kerja” Petani
Transformasi digital pertanian pada akhirnya bukan tentang seberapa banyak aplikasi yang dimiliki petani.
Ukuran keberhasilannya adalah seberapa jauh teknologi mampu membantu petani menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Smartphone yang berada di tangan petani dapat menjadi lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia dapat menjadi sumber informasi cuaca, media belajar, alat pencatatan usaha, sarana pemasaran, hingga pintu masuk menuju berbagai layanan digital pertanian.
Namun, satu hal harus tetap menjadi prinsip utama: teknologi harus mengikuti kebutuhan petani, bukan petani yang dipaksa mengikuti teknologi.
Pengalaman lapangan tetap menjadi fondasi. Pengetahuan lokal tetap penting. Penyuluh tetap memiliki peran strategis. Teknologi hadir sebagai penguat.
Ketika pengalaman petani bertemu dengan informasi yang tepat, keputusan menjadi lebih kuat.
Dan ketika keputusan yang lebih baik diterapkan secara konsisten, teknologi digital tidak lagi sekadar menjadi “aplikasi di smartphone”.
Ia berubah menjadi bagian dari strategi untuk membangun pertanian yang lebih produktif, efisien, adaptif, dan berkelanjutan.
Penutup
Pertanian Indonesia tidak kekurangan pengalaman. Yang perlu terus diperkuat adalah kemampuan menghubungkan pengalaman tersebut dengan informasi dan teknologi. Perjalanan digitalisasi pertanian sebenarnya bukan tentang meninggalkan cara bertani yang selama ini dilakukan. Ini tentang membuat cara bertani menjadi lebih cerdas.