Pembelajaran Praktek Baik menuju Perusahaan Agribisnis yang Transformational

Saat ini pola pikir dan praktik yang terkait dengan peningkatan rantai nilai pertanian, dapat dikatakan lebih fokus pada pertumbuhan dan keuntungan perusahaan. Pelibatan produsen skala kecil terbilang hanya dalam status transaksional murni, sehingga mengalihkan peran perempuan yang tidak terlihat secara nyata terlibat di dalam rantai nilai pasok.

Penemuan tersebut akhirnya terkuak dalam kegiatan penelitan Gender transformative and Responsible Agribusiness Investments in Southeast Asia (GRAISEA) yang dipimpin oleh Oxfam didukung Kedutaan Besar Swedia di Bangkok, Institute for Social Entrepreneurship in Asian (ISEA) dan bekerjasama dengan Bina Swadaya.

Adapun kegiatan penelitian tersebut bertajuk “Menemukenali Dampak Pandemi Covid-19 dan Praktek Baik Tingkat Kepatuhan Perusahaan terhadap Benchmark Transformational Partnership and Women Economic Empowerment in Agricultural Value Chain  (BTP WEE in AVC)”.

Dalam dunia pemberdayaan, berinvestasi kepada produsen perempuan dalam sebuah pelatihan teknis, akses input, kepemilikan lahan dan infrastuktur telah memberi peluang bagi perusahaan tersebut untuk menjadi lebih baik karena dinilai dapat meningkatkan pasokan dan produktivitas perusahaan.

Kebijakan tersebut dinilai dapat mempromosikan kesetaraan gender sebagai pengingat adanya ketidakadilan akses lahan, input dan layanan yang dihadapi oleh produsen perempuan di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, dilihat dari sisi positifnya, perempuan ternyata mampu menyumbangkan peluang yang besar dalam pengembangan rantai pasok pertanian.

Bina Swadaya Konsultan yang dipercaya sebagai peneliti dilapangan melakukan penelitian terhadap produsen skala kecil baik pria maupun perempuan di kelompok pemasok PT. Trubus Mitra Swadaya atau biasa dikenal sebagai Toko Trubus.

Berdasarkan penelitian tersebut, para pemasok ternyata mampu membawa pencerahan kepada Toko Trubus untuk melakukan praktek baik terhadap tranformasi kemitraan dan pemberdayaan ekonomi perempuan di tingkat supplier maupun di perusahaan (Toko Trubus) sendiri.

Selain itu, hasil dari kegiatan penelitian tersebut juga memberikan ketertarikan. Dari hasil riset yang dicapai tersebut, Toko Trubus semakin termotivasi untuk membangun perencanaan strategi yang lebih matang guna meningkatkan komitmen perusahaan. 

Karyawan Toko Trubus saat mengisi instrument BTP WEE in AVC

Scorecard Benchmark Transformational Partnership and Women Economic Empowerment in Agricultural Value Chain (BTP WEE in AVC) yang menjadi salah satu instrument, mengajak Toko Trubus untuk merefleksikan sejauh mana perusahaan agribisnisnya sejalan terhadap BTP WEE in AVC. Dengan tools yang mudah, Toko Trubus dapat mengisi dan belajar lebih banyak mengenai pemberdayaan masyarakat beserta kesetaraan gender di tempat kerja.

Guna mencapai peningkatan praktek baik tersebut, salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan membuat perencanaan aksi yang diperoleh dari hasil scorecard BTP WEE in AVC. Perencanaan aksi tersebut diambil dari WEE indikator sub element yang terdapat pada BTP WEE in AVC.

Perencanaan aksi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan implementasi dalam meningkatkan pengelolaan perusahaan seperti administrasi dan monitoring kegiatan yang dapat berkontribusi terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan. Dalam hal ini, baik karyawan perempuan di Toko Trubus maupun para supplier perempuan untuk mencapai transformasi kemitraan yang baik dan pemberdayaan ekonomi perempuan berkelanjutan.

Dari beberapa pertemuan yang dilakukan dengan Toko Trubus tersebut, kepemimpinan perempuan telah terlihat. Salah satunya ketika kaum perempuan mendapat andil untuk mengelola bisnis, sehingga peran serta mereka mengelola perusahaan juga dapat dirasakan.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan kedepannya perempuan dapat menjadi pemimpin usaha (CEO perempuan). Oleh sebab itu, Toko Trubus membuka kesempatan berkolaborasi dengan Bina Swadaya Konsultan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan peningkatan kapasitas perempuan dalam keterampilan usaha.

Selain itu, juga termasuk dalam mendukung lingkungan kerja yang ramah perempuan, representasi kepemimpinan perempuan, akses terhadap pasar, organisasi pemerintah, asset, dan resiliensi.

Instrumen BTP WEE in AVC tersebut ternyata mampu memberikan dampak kesadaran, bahwa dalam perusahaan harus memberikan kesempatan pada kaum perempuan untuk mengambil peran dalam kepemimpinan. Kedepan, untuk mencapai peningkatan level, Toko Trubus diupayakan melakukan strategi dalam peningkatan akses dan kesetaraan gender, kepemimpinan, serta perlindungan hukum terhadap supplier perempuan (atau juga istri dari supplier laki-laki).

Hal tersebut perlu dilakukan agar lingkungan kerja Toko Trubus mendukung suasana dan lingkungan yang ramah terhadap perempuan. Sehingga dapat berkembang menjadi perusahaan yang transformasional dari yang sebelumnya cenderung bersifat dan pola pikir transaksional saja.