Kaum Perempuan Berperan Besar dalam Pemulihan Ekonomi Melalui UMKM

Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak awal 2020 berdampak besar terhadap kinerja perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat penurunan perekonomian sebesar 2,07% pada 2020 dibanding tahun sebelumnya.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM 2021, selama pandemi berlangsung, perekonomian Indonesia ditopang oleh pendapatan dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 60% dari total PDB Indonesia pada 2020. Sementara itu, sisanya tercatat dari perusahaan besar.

Mengutip data dari Katadata Insight Center (KIC), sebanyak 82,9% UMKM terdampak selama pandemi COVID-19 berlangsung. Kajian mengenai dampak pandemi terhadap UMKM oleh beberapa lembaga, yakni Badan Pusat Statistik, Bappenas, dan Bank Dunia menunjukkan bahwa pandemi telah menyebabkan banyak UMKM kesulitan melunasi pinjaman serta membayar tagihan operasional dan gaji karyawan, kesulitan memperoleh bahan baku, permodalan, penurunan jumlah pelanggan, distribusi dan produksi terhambat.

Salah satu penyebabnya adalah penurunan konsumsi dan pengeluaran masyarakat Indonesia sebesar minus 1,5% sampai dengan minus 3%. Ditambah lagi adanya pembatasan mobilitas masyarakat yang ditetapkan telah menyebabkan aktivitas belanja masyarakat, khususnya pada saluran distribusi atau rantai pasokan tradisional, turut mengalami penurunan. Sejalan dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi UMKM tersebut, data survei Bank Pembangunan Asia (ADB) menunjukkan sebesar 34 juta UMKM atau lebih dari 50% terpaksa menutup usahanya secara permanen atau sementara.

Perempuan mendominasi sektor usaha mikro dan UMKM di Indonesia

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengungkapkan sekitar 65 juta unit UMKM yang ada di Indonesia, sebagian besar dijalankan oleh perempuan. Sekitar 52,9% usaha mikro di Indonesia dijalankan oleh perempuan, untuk sektor usaha kecil, 50,6% adalah perempuan, dan pada usaha menengah 34% juga dijalankan oleh perempuan.

Berdasarkan data tersebut, tidak bisa dipungkiri, perempuan mendominasi pelaku UMKM di Indonesia. Artinya, perempuan mempunyai peran yang sangat besar dalam pemulihan ekonomi Indonesia melalui kebangkitan UMKM. Akan tetapi, kasus COVID-19 yang terus menurun seharusnya dapat menjadi momentum pemulihan ekonomi dengan lebih memaksimalkan peran perempuan melalui sektor UMKM.

Kendati demikian, beberapa penelitian telah menyoroti bahwa dampak pandemi lebih besar kepada perempuan dibanding kepada laki-laki. Hal tersebut karena kaum perempuan menanggung beban pekerjaan domestik yang lebih besar selama pandemi, seperti mengajar anak sekolah, tugas rumah tangga, dan pekerjaannya. Dampaknya, 25 persen perempuan yang bekerja mempertimbangkan untuk berhenti bekerja atau memperlambat kariernya selama pandemi.

Selain itu, perempuan di sektor informal juga menanggung lebih banyak risiko saat bekerja di masa pandemi karena para pekerja di sektor informal juga tidak mendapatkan perlindungan kesehatan, hukum pekerja, dan tunjangan sosial seperti yang didapatkan oleh pekerja di sektor formal.

Oleh karena banyaknya perempuan yang bekerja di sektor informal, pembahasan dampak ekonomi selama pandemi terhadap UMKM dan sektor informal tidak dapat dipisahkan dari pembahasan permasalahan sosial yang dialami perempuan sebagai penopang sektor informal di Indonesia.

Melihat besarnya peran UMKM dan sektor informal dalam menopang perekonomian dan keterlibatan perempuan pada sektor tersebut, diperlukan adanya pemahaman mendalam mengenai dampak pandemi terhadap kedua kelompok tersebut: UMKM dan perempuan di sektor informal, sekaligus strategi mereka dalam menghadapi pandemik. Hal tersebut dipandang penting sebagai landasan bagi para pemegang kepentingan (stakeholders) dan pemangku kebijakan (policy maker) untuk memetakan dukungan yang efektif guna membantu UMKM dan perempuan di sektor informal untuk bertahan di masa pandemik.

Strategi kesiapsiagaan UMKM dan perempuan sektor informal

Dr. Widya Paramita dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam penelitian yang menjadi dasar penyusunan Peta Jalan dan Strategi Kesiapsiagaan UMKM dan Perempuan di Sektor Informal dalam menghadapi krisis akibat pandemi COVID-19 mengatakan, perlu adanya identifikasi dan klasifikasi permasalahan yang dihadapi oleh UMKM dan perempuan sektor informal di masa pandemi COVID-19.

“Perlu adanya dukungan terhadap UMKM dan perempuan. Strategi yang digunakan UMKM bergantung pada jenis permasalahan yang dihadapi dan sumber daya yang dimiliki. Sebab, permasalahan UMKM berbeda-beda dan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan satu dengan yang lain,” kata Widya dalam paparannya pada Bincang-Bincang Wisma Hijau-Build Forward Better yang mengusung tema “Bertahan dan Berkembang: UMKM dan Perempuan Sektor Informal di Masa Pandemi COVID-19”, yang digelar secara virtual, Jumat (29/10).

Lebih lanjut Widya menyampaikan, berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dirinya sangat mendorong adanya perubahan ke arah ekosistem yang lebih inklusif untuk bisa bersama-sama mendorong usaha mikro dan kecil maju dan berkembang.

“Kebijakan-kebijakan yang ada selama ini mengarah kepada digitalisasi atau pemberian modal. Permasalahan UMKM tidak hanya selesai dengan pemberian modal dan digitalisasi saja, tetapi kita harus melihat lebih dalam lagi bahwa mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda sehingga dukungan yang diberikan sebaiknya disesuaikan,” ungkap Widya.

Prof. Nurul Indarti, Ph.D, peneliti UMKM dan rantai pasokan Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) pada kesempatan yang sama menyampaikan, survei BPS yang dilakukan sebelum pandemi COVID-19 memberikan gambaran bahwa kondisi UMKM di Indonesia sebesar 98,68% usaha di Indonesia didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

Prof. Nurul Indarti, Ph.D, peneliti UMKM dan rantai pasokan Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM)

Menurutnya, situasi tersebut tidak mengherankan jika 93,45% UMKM tidak berbadan usaha. Sebanyak 93,78% UMKM tidak menggunakan komputer dalam usahanya dan 90,24% UMKM tidak menggunakan internet.

“Dengan situasi ini, tidak mengherankan kalau mayoritas UMKM tidak memiliki badan usaha. Kemudian mayoritas UMKM tidak menggunakan komputer dan internet dalam menjalankan usahanya. Mereka juga tidak bergandeng tangan untuk menjalin kemitraan. Mereka hanya mengandalkan kemampuan sendiri untuk bertahan dan berkembang,” paparnya.

Berangkat dari hasil survei yang dilakukan, Nurul mengidentifikasi dan melakukan wawancara mendalam ke beberapa pelaku UMKM yang penjualannya stabil dan meningkat. Beberapa UMKM yang dikelola oleh perempuan dengan pendidikan kurang dari perguruan tinggi, omzetnya tidak berkembang di masa pandemi ini. Sebaliknya, pelaku UMKM yang berpendidikan perguruan tinggi, omzetnya stabil dan justru meningkat di masa pandemi.

“Pelaku UMKM yang bertahan dan berkembang di masa pandemi adalah mereka yang melakukan strategi salah satunya dengan menerapkan konsep bisnis terintegrasi yang berfokus pada penguatan sumber daya manusia serta yang agresif mengoptimalkan jejaring sosial. Pelaku UMKM yang terintegrasi dari hulu sampai hilir yang bisa bertahan dan berkembang,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Inkubasi Bisnis ITB, Dina Dellyana. Dirinya mengutarakan bahwa kita harus berpikir dari sisi ekosistem yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing UMKM.

“Kita perlu membuka diri untuk berkolaborasi karena tidak mungkin semua dijalankan sendiri. Kolaborasi adalah kunci walaupun bukan menjadi sesuatu hal yang mudah, tapi kita harus berpikir bahwa ekosistem yang kita bangun ini bisa berkelanjutan. Yang terakhir adalah konsistensi. Konsistensi menjadi hal yang harus kita perhatikan,” tutur Dina.

Go Digital

Direktur Inkubasi Bisnis ITB, Dina Dellyana

Situasi pandemi COVID-19 terhadap dunia usaha, termasuk UMKM dihadapkan pada tantangan percepatan digitalisasi. Dalam paparannya, Dina mengatakan bahwa pandemi membawa perubahan gaya hidup masyarakat dengan lebih banyak bertansaksi secara online.

“Teman-teman UMKM fashion misalnya, di masa pandemi COVID-19 pendapatannya justru meningkat. Artinya, business agility menjadi salah satu poin penting bagaimana mereka bisa bertahan atau tidak di masa pandemi. Sehingga kondisi ini menuntut UMKM untuk bisa beradaptasi dan bertransformasi menuju digitalisasi,” ujar Dina dalam paparannya.

Pada awal pandemi COVID-19, Inkubasi Bisnis, Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB melakukan riset dampak COVID-19 terhadap value chain bisnis. Dirinya menyebarkan kuisioner kepada 3.000 pelaku UMKM. Hasil menunjukkan, di dalam value chain bisnis, bencana COVID-19 paling banyak berpengaruh terhadap penurunan demand, disusul masalah produksi.

Dalam rangka Go Digital bagi pelaku UMKM berusia 30 tahun ke atas, Inkubasi Bisnis, juga membuka layanan coaching clinic secara gratis. Dalam menjalankannya, Inkubasi Bisnis memberdayagunakan mahasiswa tingkat akhir untuk menerima konsultasi dan memberikan pendampingan kepada pelaku-pelaku UMKM.

Menurutnya, ada beberapa penyebab UMKM tidak berkembang, di antaranya kapasitas SDM dan manajerial yang rendah, kemampuan teknologi rendah, tidak ada perencanaan bisnis yang tepat hingga tidak memiliki strategi pengembangan usaha. Padahal, seharusnya UMKM bisa terhubung dengan ekosistem digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan adanya Inkubasi Bisnis ini, diharapkan perempuan-perempuan pelaku UMKM bisa cepat tanggap terhadap perubahan model bisnis sehingga UMKM yang dikelola bisa naik kelas.

“Ketika kami melakukan coaching clinic kepada peserta yang berusia lanjut, kita menyarankan untuk melibatkan anaknya sebagai generasi muda, sebagai technology readiness, sehingga dapat meningkatkan performa bisnisnya ke depan. Program-program yang kita lakukan, penting bagi kami mengelompokkan untuk mengetahui leveling mereka ada di mana sehingga pada prosesnya tidak bisa disamaratakan,” tutup Dina. (Astri)