BSK Dipercaya Lakukan Pendampingan Masyarakat Sektor Pertanian dan Perikanan di Kutai Timur

Pemberdayaan masyarakat oleh PT. Indexim Coalindo yang menggandeng Bina Swadaya Konsultan dalam program Coorporate Social Responbility (CSR) berhasil memberikan manfaat bagi masyarakat di Desa Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dalam program pendampingan tersebut berhasil menghasilkan sejumlah koperasi dan beberapa kelompok masyarakat di sektor pertanian dan perikanan.

Sekolah Lapang

Dwi Prayitno, Team Leader program pemberdayaan ekonomi Bina Swadaya Konsultan menyampaikan, selain di sektor pertanian dan perikanan, program pemberdayaan juga menyentuh bidang teknis seperti UMKM dan kelembagaan.

Di bidang UMKM sendiri telah terbentuk 1 asosiasi UMKM dan 11 kelompok UMKM, untuk kelembagaan sendiri telah berdiri koperasi pertanian dan perikanan.

“Dari hasil pendampingan hampir 2 tahun berjalan ini di 2 desa, ada 10 kelompok nelayan yang kita dampingi, 1 kelompok petambak dan 1 koperasi perikanan. Kalau bidang pertanian di 2 desa, ada 19 kelompok tani, 1 kelompok wanita tani dan 1 koperasi pertanian”, ujarnya saat menjadi narasumber acara Bincang-Bincang Wisma Hijau yang dilakukan secara virtual, beberapa waktu lalu.

Pada awal kegiatan di sektor pertanian, pendampingan dilakukan dengan membuka sekolah lapang dan demplot padi. Sekitar 10 kali pertemuan sekolah lapang, mampu memberikan wawasan atau ilmu baru di dunia pertanian kepada anggota kelompok.

“Banyak hal-hal yang akhirnya kami ketahui. Pertama, sebelum sekolah lapang dulunya kami memakai pupuk urea, sekarang kami memakai kompos dan beban biaya tidak terlalu tinggi. Kedua, demplot cabai juga, ketiga, dari sekolah lapang muncul stocking point. Karena teman-teman belum 100 persen melakukan organik”, ujar Supriyadi, salah satu anggota kelompok tani yang mengikuti kegiatan sekolah lapang.

Dampak positif lainnya, kehadiran sekolah lapang juga memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan hasil panen padi. “Bukan cuman timbangannya, biayanya juga murah. Dulunya cuman 1 ton per hektar, sekarang sudah 1 ton setengah” tambahnya.

Sementara itu dari sektor perikanan, Zainudin yang tergabung dalam kelompok nelayan Bakau Abadi menyampaikan, kehadiran PT. Indexim Coalindo bersama Bina Swadaya Konsultan di Desa Kaliorang khususnya di kelompok nelayan Bakau Abadi telah memberikan pelatihan manajemen usaha dan teknis alat tangkap yang berdampak positif kepada para nelayan setempat.

Kelompok nelayan

“Dulu rata-rata nelayan melaut dengan spot mancingnya hanya ditempat tertentu seperti dipinggiran atau batu karang. Dengan adanya pelatihan itu dari tim BSK bersama-sama dengan anggota kelompok nelayan sepakat untuk membuat rumpon”, jelasnya.

Setelah menggunakan rumpon, dikatakannya kelompok nelayan berhasil meningkatkan hasilnya tangkapan ikannya hingga dua kali lipat.

Namun menurut Zainuddin, pendampingan yang paling penting dan dinanti para anggota adalah dalam pembuatan legalitas kelompok nelayan.

“Yang paling penting yaitu BSK telah mendampingi kami dalam legalitas kelompok nelayan. Selama ini kita cuman sekedar kelompok tanpa adanya dokumen legalitas. Dengan kehadiran BSK, maka saat ini kami sudah memiliki legalitas, akte notaris, dan lain-lainya”, ujarnya.

Agung Prasetio, Program Manager BSK mengungkapkan, dengan memanfaatkan potensi lokal, pendampingan lapangan yang dilakukan di Kutai Timur oleh PT. Indexim bersama BSK di sektor pertanian dan perikanan sebenarnya bisa dilakukan di mana saja sesuai dengan potensi lokal masing-masing daerah.

“Intinya memanfaatkan bahan-bahan lokal yang dapat mendukung sektor ekonomi dan perikanan yang berkorelasi dengan peningkatan ekonomi dan sangat bisa diterapkan di Indonesia sesuai potensi lokal”, ujarnya.