Sebagai negara agraris, Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke memiliki ribuan pulau dan sumber daya alam melimpah sehingga digadang-gadang sebagai negara produsen pangan terbesar di dunia. Melalui sektor pertanian, Indonesia diharapkan mampu mewujudkan ketahanan pangan untuk menuju kedaulatan pangan.

Namun, ironisnya, para petani Indonesia hingga saat ini masih belum mencapai kata sejahtera. Minimnya jumlah lahan yang dimiliki turut menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat kesejahteraan para petani.

Pendiri Badan Usaha Milik PT.Petani Pengayom Tani Sejagat (BUMP PT.PTS), Hanjar Lukito Jati mengatakan, saat ini rata-rata petani Indonesia khususnya di Wonogiri hanya memiliki lahan kurang dari setengah hektare. 

“Rata-rata petani di Wonogiri hanya memiliki 0,2 sampai 0,3 hektare lahan pertanian sehingga pendapatannya rendah. Berdasarkan analisa kami, rata-rata pendapatan petani di Wonogiri masih jauh dari UMR sehingga masih harus membutuhkan inovasi-inovasi untuk bisa meningkatkan pendapatan para petani,” ujarnya dalam diskusi publik Bincang-Bincang Wisma Hijau yang digelar secara daring, Jumat, 5 Februari 2021.

Melalui BUMP PT.Pengayom Tani Sejagat, Hanjar berupaya membantu para petani untuk bisa meningkatkan perekonomiannya melalui berbagai inovasi. Dengan perkembangan teknologi pertanian yang mengalami kemajuan pesat, seharusnya bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Hanjar mengakui petani yang memiliki kepemilikan lahan sedikit bisa dikategorikan berada di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini seharusnya dimanfaatkan oleh para pemuda yang mempunyai jiwa kewirausahaan sosial untuk tampil dan membantu para petani. Momentum tersebut dinilai cukup tepat untuk berinovasi di agrobisnis. Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan yang dilakukan oleh BUMP Pegayom Tani Sejagat juga sejalan dengan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin satu tanpa kemiskinan, poin dua tanpa kelaparan dan poin tiga kehidupan sehat dan sejahtera.

“Saat ini kami fokus ke satu kabupaten karena kegiatan kami berada di Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Wonogiri memiliki luas wilayah seluas lebih dari 182 ribu hektare dengan jumlah panen sebesar 233.687 ton, sementara total kebutuhan beras di Kabupaten Wonogiri sebesar 84.587 ton. Artinya, dari jumlah tersebut masih surplus sebesar 149.100 ton,” ucapnya.

Melihat potensi tersebut, ia akhirnya membentuk Badan Usaha Milik Petani PT Pengayom Tani Sejagad pada Mei 2016, dengan fungsi utama sebagai lembaga yang menginventarisasi dan mengapitalisasi modal petani sekaligus membangun komunikasi dan keseimbangan yang berhubungan dengan petani serta melakukan kegiatan agribisnis (dari hulu sampai hilir).

BUMP PT Pengayom Tani Sejagat sendiri merupakan korporasi petani berbasis pemberdayaan petani sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

“BUMP PT PTS merupakan perusahaan berbasis petani dengan penggabungan antara Gapoktan dan Perkumpulan Pertanian Organik yang dikelola secara profesional melibatkan para pemuda dari berbagai latar belakang bidang kompetensi dan keilmuan yang saling melengkapi,” ujar Hanjar menjelaskan.

Pada 18 Juli 2017 BUMP PT.PTS diberi kepercayaan oleh pemerintah daerah untuk menjadi pengelola gudang dengan Sistem Resi Gudang (SRG) dan mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikat sebagai pengelola gudang. Sertifikasi ini disahkan oleh BAPPEBTI Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada 30 November 2017 untuk gudang SRG yang beralamat di Josutan RT 001 RW 002 Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Pada Oktober 2018 BUMP PTS dipercaya menjadi pemasok Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dengan perputaran sampai saat ini ± 600 ton sampai dengan 2.000 ton per bulan.

Dalam rangka mengembangkan bisnis di bidang beras konvensional maka BUMP PT Pengayom Tani Sejagad memproduksi beras premium dengan merk dagang HPS (Hasil Petani Sejagad) dengan registrasi dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 51 Tahun 2018 tentang Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT). 

Pada Maret 2019 BUMP PTS berhasil melakukan ekspor perdana ke Amerika. Sampai saat ini telah melakukan ekspor ke berbagai negara di antaranya Amerika, Itali, Prancis, Singapura, dan Malaysia.

Sebagai narasumber kedua, Apni Naibaho, perempuan asal Pematangsiantar, Sumatera Utara ini juga menjadi sosok yang menginspirasi para petani. Keprihatinannya kepada petani yang terjerat tengkulak, membuatnya merintis usaha Siantar Sehat (SISE) untuk memotivasi dan mengajak petani konvensional untuk beralih menjadi petani organik. Situasi sulit yang menjerat para petani di kampung halamannya-lah yang membuat Apni bertekad kuat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan para petani. 

Meski tidak memiliki latar belakang pertanian, usai menempuh perguruan tinggi di Jakarta, Apni memutuskan kembali ke kampung halamannya. Sebelum kembali ke kampung halaman, ia membekali dirinya dengan mengikuti kursus pertanian organik di Sentul, Bogor. 

“Pada tahun itu belum ada orang yang melakukan pertanian organik di kampung saya. Sehingga saya memilih bertani secara organik karena aman dan sayuran yang dihasilkan juga lebih sehat,” ujar perempuan 39 tahun ini.

Usai mengikuti kursus pertanin organik, Apni mulai terjun ke pertanian organik dengan mendirikan Kelompok Usaha Sayuran Organik yang ia beri nama Siantar Sehat (SISE) pada 2013. Saat itu ia bertekad menjadikan Siantar Sehat sebagai pionir pertanian organik.

Meski berkeinginan besar untuk membantu para petani mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Apni menemui berbagai tantangan. Dirinya bercerita, saat itu mengubah mindset petani konvensional untuk beralih menggunakan pupuk organik tidak mudah. Ditambah saat itu belum banyak anak muda yang tertarik untuk terlibat di pertanian organik. Padahal, peluang pasar produk organik sangat menjanjikan dan berpotensi mendapat keuntungan besar dari pertanian organik.

Apni mengaku dalam merintis SISE tidak mudah. Sebab, nyatanya memotivasi dan mengajak para petani untuk beralih ke pertanian organik cukup sulit.

“Tahun pertama saya sewa lahan untuk mengajarkan petani mengelola pertanian organik di lahan itu, dari situ kami mulai berkolaborasi dengan petani setempat. Saya mempekerjakan dan mengajarkan para petani untuk membuat bedengan, mengolah lahan, hingga membuat pupuk kompos. Tapi satu tahun kemudian saya gagal karena tidak ada petani yang mau bertani secara organik di lahannya masing. Akhirnya, saya beralih ke tempat kedua, di tempat kedua hal yang sama terjadi, petani belum mau bertani secara organik. Kemudian saya mencoba sewa lahan di tempat ketiga di Blik Songo, satu tahun saya melakukan pertanian organik, barulah ada beberapa petani yang tertarik untuk beralih ke pertanian organik sampai sekarang,” ungkapnya.

Upayanya menularkan pertanian organik kepada petani di kampung halamannya tidak sia-sia. Setelah tiga tahun merintis Siantar Sehat, petani di wilayahnya mulai tertarik untuk melakukan pertanian organik. Sejak 2015 sampai sekarang ada lima petani yang bergabung dan menanam berbagai sayuran organik. Meski begitu Apni mengakui bahwa sayuran yang diproduksi belum murni organik karena lahan pertaniannya masih berada di sekitar lahan pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia.

“Tapi kami berupaya dan telah memberikan perlakuan organik pada sayuran yang kami tanam,” ungkap ucap perempuan yang dinobatkan menjadi Duta Petani Muda 2016 ini.

Selain bertani dan memproduksi produk pangan olahan, Siantar Sehat juga membuka pelatihan pertanian organik bagi orang-orang yang ingin belajar tentang pertanian organik.