“Perubahan tidak selalu dimulai dari pembangunan jalan atau gedung. Kadang, perubahan lahir dari sebuah ruang belajar sederhana ketika masyarakat menemukan pengetahuan baru yang kemudian mengubah cara mereka mengambil keputusan.”
Kalimat tersebut menjadi gambaran yang paling tepat untuk melihat perjalanan Program OCBC Society Fase 2 di Desa Tamansari, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang.
Selama dua hari, 6–7 Desember 2025, balai desa, ruang kelas sekolah dasar, hingga aula desa berubah menjadi ruang belajar bersama. Di tempat-tempat itulah remaja berdiskusi mengenai masa depan mereka, ibu rumah tangga mempelajari keamanan pangan keluarga, pelaku UMKM mulai memahami cara menghitung keuntungan usahanya, sementara perangkat desa belajar memanfaatkan media digital untuk mengembangkan potensi desa.
Namun bagi Bina Swadaya, kegiatan tersebut bukan sekadar rangkaian pelatihan. Setiap sesi merupakan bagian dari proses Knowledge Management, yaitu bagaimana pengetahuan dikumpulkan, ditransfer, dipraktikkan, lalu menjadi modal sosial yang mampu mendorong perubahan masyarakat secara berkelanjutan.
Pendampingan Dimulai dari Mendengarkan
Sebelum materi pelatihan diberikan, Bina Swadaya terlebih dahulu melakukan asesmen partisipatif selama empat hari di empat dusun Desa Tamansari.
Asesmen tersebut memotret kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga kelembagaan desa. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi besar, namun masih menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya kapasitas pelaku usaha, perlunya penguatan kelembagaan desa, literasi kesehatan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi digital. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan seluruh materi pendampingan pada Fase 2.
Pendekatan tersebut merupakan prinsip utama Bina Swadaya dalam melakukan pendampingan: program harus lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata dari asumsi penyelenggara.
Mengubah Data Menjadi Dampak
Salah satu tantangan dalam program pemberdayaan adalah memastikan bahwa kegiatan tidak berhenti sebagai daftar aktivitas. Melalui pendekatan Knowledge Management, setiap kegiatan diterjemahkan menjadi data pembelajaran yang dapat diukur. Selama dua hari pelaksanaan, tercatat 113 peserta mengikuti berbagai bentuk peningkatan kapasitas yang mencakup lima kelompok sasaran utama.
Sebanyak 35 peserta mengikuti edukasi dampak pernikahan dini dan kesehatan reproduksi. 30 peserta mengikuti pelatihan PHBS keluarga dan keamanan pangan. 25 siswa sekolah dasar memperoleh edukasi PHBS Anak melalui metode praktik dan permainan edukatif. 8 pelaku UMKM mendapatkan pendampingan mengenai literasi keuangan, legalitas usaha, dan pemasaran. Yang terakhir, 15 perangkat desa, kader PKK, dan Karang Taruna memperoleh pelatihan digital marketing, digital content, serta literasi keuangan rumah tangga.
Jumlah tersebut mungkin terlihat sederhana.Namun di balik angka tersebut terdapat lebih dari seratus individu yang kini memiliki pengetahuan baru untuk mengambil keputusan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, dan inilah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.

Ketika Pelatihan Tidak Lagi Berupa Ceramah
Salah satu kekuatan pendekatan pendampingan Bina Swadaya adalah penggunaan metode pembelajaran orang dewasa (adult learning). Peserta tidak hanya mendengarkan materi, namun mereka diminta berdiskusi, menceritakan pengalaman. mempraktikkan langsung, hingga menggunakan persoalan nyata yang mereka hadapi sebagai bahan belajar.
Pada pelatihan literasi keuangan UMKM, misalnya, setiap peserta membawa produk usahanya sendiri. Alih-alih menjelaskan teori akuntansi yang rumit, fasilitator justru mengajak peserta menghitung biaya produksi produk mereka secara langsung. Dari sana muncul satu kesadaran penting. Banyak pelaku usaha selama ini menentukan harga jual berdasarkan perkiraan, bukan berdasarkan biaya produksi yang sebenarnya.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai legalitas usaha, pentingnya Nomor Induk Berusaha (NIB), strategi pemasaran, segmentasi konsumen, hingga penguatan kemasan produk.
Bahkan peserta diajak membuka sistem OSS secara langsung sehingga mereka memahami bahwa proses legalisasi usaha bukan sesuatu yang rumit ataupun jauh dari jangkauan masyarakat desa. Pendekatan praktik seperti inilah yang membuat proses transfer pengetahuan jauh lebih efektif dibandingkan penyampaian materi satu arah.

Membangun Desa Digital Dimulai dari SDM
Transformasi digital sering kali dipahami sebagai penyediaan jaringan internet atau perangkat teknologi. Padahal tantangan sebenarnya berada pada manusianya.
Karena itu, salah satu sesi yang memperoleh perhatian besar adalah pelatihan Digital Marketing dan Digital Content bagi perangkat desa, Karang Taruna, serta kader PKK. Materi yang diberikan tidak berhenti pada cara membuat unggahan media sosial. Peserta diajak memahami bagaimana membaca tren, menyusun strategi komunikasi, membangun identitas digital desa, memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membantu penyusunan konten, hingga menjaga konsistensi publikasi.
Menariknya, proses belajar menggunakan akun media sosial resmi Desa Tamansari sebagai studi kasus sehingga seluruh materi langsung berkaitan dengan kebutuhan peserta. Pendekatan seperti ini memiliki nilai penting karena menghasilkan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan setelah pelatihan selesai.
Pengetahuan Harus Bisa Diukur
Sering kali keberhasilan pelatihan hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir. Padahal indikator tersebut belum menunjukkan adanya perubahan kapasitas.
Dalam Program OCBC Society Fase 2, evaluasi pembelajaran dilakukan melalui pre-test dan post-test, khususnya pada materi Literasi Keuangan Rumah Tangga.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta mampu memahami materi dengan sangat baik setelah proses pembelajaran berlangsung. Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa metode pendampingan yang digunakan berjalan efektif.
Selain data kuantitatif, perubahan juga tercermin dari pengalaman peserta. Salah satu peserta pelaku usaha mengaku kini memahami cara menentukan harga jual secara lebih menguntungkan sekaligus mulai memperhatikan aspek kebersihan produk.
Sementara aparatur desa menyampaikan bahwa materi digital content membuka perspektif baru mengenai bagaimana media sosial desa dapat menjadi sarana promosi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Dari Desa Tamansari untuk Pembelajaran Pemberdayaan Indonesia
Program OCBC Society Fase 2 menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat bukan sekadar menghadirkan bantuan atau menyelenggarakan pelatihan.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat memperoleh pengetahuan yang dapat mereka gunakan untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Melalui 113 penerima manfaat langsung, penguatan kapasitas di bidang kesehatan, ekonomi, digitalisasi, serta kelembagaan desa, Bina Swadaya Konsultan bersama OCBC Society telah membangun fondasi yang lebih kuat bagi terciptanya masyarakat yang mandiri.
Karena pada akhirnya, pembangunan yang paling berkelanjutan adalah pembangunan yang meninggalkan pengetahuan. Dan pengetahuan yang terus dibagikan akan selalu menghasilkan perubahan yang melampaui batas waktu sebuah program. (Bina Swadaya)






