Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, baik melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, maupun upaya menjaga lingkungan. Dalam pelaksanaannya, program CSR tentu membutuhkan perencanaan yang yang matang agar tujuan perusahaan dapat selaras dengan kebutuhan masyarakat dan menghasilkan manfaat yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
Perusahaan tentu berharap program CSR yang dijalankan tidak hanya memberikan dampak selama program berlangsung, tetapi juga tetap memberikan manfaat setelah pendanaan dan pendampingan berakhir. Namun, pada praktiknya tidak sedikit program yang mulai mengalami penurunan aktivitas ketika perusahaan tidak lagi terlibat secara langsung. Kegiatan berhenti, pengelolaan tidak berjalan optimal, atau masyarakat kembali menunggu dukungan dari perusahaan.
“Terdapat situasi dimana program dianggap ‘gagal’, alasannya karena output dan capaian ternyata tidak sesuai seperti apa yang diharapkan oleh klien. Akhirnya tetap diminta menyelesaikan pekerjaan namun tanpa tambahan biaya.”
Bagus Trianggono, Program Bina Swadaya Konsultan
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan program CSR tidak hanya berkaitan dengan berapa lama program dilaksanakan atau seberapa besar pendanaan yang diberikan. Lebih dari itu, terdapat berbagai aspek yang perlu dipersiapkan sejak awal agar program tetap dapat berjalan ketika perusahaan mulai mengurangi keterlibatannya.
Ketergantungan pada perusahaan
Salah satu tantangan yang sering muncul adalah ketergantungan masyarakat terhadap perusahaan. Ketika sebagian besar kegiatan, sumber daya, pengambilan keputusan, bahkan operasional program masih bergantung pada perusahaan, keberlangsungan program menjadi rentan ketika dukungan tersebut dihentikan.
Pendanaan perusahaan memang dapat menjadi pemicu awal bagi sebuah program. Namun, sustainability tidak cukup hanya dengan memastikan tersedianya dana selama periode program. Sejak awal, perlu dipikirkan bagaimana masyarakat dapat mengambil alih peran, mengelola sumber daya, dan mempertahankan manfaat program secara mandiri ketika perusahaan mulai mengurangi keterlibatannya.

Membangun ownership, bukan sekadar partisipasi
Ownership masyarakat merupakan salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan. Masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dengan begitu, program tidak hanya menjawab kebutuhan yang diasumsikan oleh perusahaan, tetapi juga lahir dari kebutuhan dan potensi yang benar-benar ada di masyarakat.
Ketika masyarakat memiliki ruang untuk menentukan arah program, mengambil keputusan, dan melihat manfaat yang mereka rasakan secara langsung, rasa memiliki terhadap program dapat tumbuh. Program yang awalnya merupakan inisiatif perusahaan perlahan dapat berubah menjadi program bersama.
Kapasitas lokal menentukan keberlanjutan
Keberlanjutan membutuhkan kemampuan lokal untuk mengelola kegiatan setelah pendampingan berakhir. Kapasitas tersebut dapat berupa keterampilan teknis, kemampuan manajemen, pengelola keuangan, pemasaran, pengambilan keputusan, hingga kemampuan menyelesaikan masalah yang muncul secara mandiri.
Karena itu, program CSR perlu memikirkan proses capacity building sejak awal. Pendampingan tidak seharusnya hanya berfokus pada menyelesaikan kegiatan, tetapi juga pada proses mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat agar kemampuan tersebut tetap berada di tingkat lokal. Program yang berkelanjutan bukan hanya meninggalkan hasil, tetapi juga meninggalkan kemampuan untuk mempertahankan hasil tersebut.

Kelembagaan yang menjaga program tetap berjalan
Program juga akan lebih sulit bertahan apabila seluruh pengetahuan dan tanggung jawab hanya berada pada satu atau dua orang. Ketika orang tersebut tidak lagi aktif, program pun berisiko ikut berhenti. Oleh karena itu, peran kelembagaan lokal penting untuk hadir. Kelompok masyarakat, koperasi, organisasi komunitas, atau bentuk kelembagaan lain dapat menjadi wadah untuk mengatur pembagian peran, pengambilan keputusan, pengelolaan sumber daya, hingga penyelesaian masalah.
Kelembagaan bukan hanya struktur atau pembentukan kelompok secara administratif. Hal yang lebih penting adalah apakah kelembagaan tersebut benar-benar berfungsi, memiliki peran yang jelas, mampu mengambil keputusan, dan memiliki mekanisme untuk melanjutkan kegiatan. Semakin kuat sistem yang dibangun, semakin kecil ketergantungan program terhadap kehadiran perusahaan.
Regenerasi untuk keberlanjutan program jangka panjang
Keberlanjutan juga berkaitan dengan pertanyaan sederhana: siapa yang akan melanjutkan ketika penggerak utama sudah tidak aktif?
Program CSR yang bergantung pada tokoh tertentu dapat menghadapi tantangan ketika terjadi pergantian pengurus, perubahan kesibukan, atau berkurangnya keterlibatan generasi sebelumnya. Karena itu, regenerasi perlu menjadi bagian dari desain program, bukan baru dipikirkan ketika masalah sudah muncul. Menyiapkan generasi muda, membagi pengetahuan kepada lebih banyak anggota, serta menyiapkan calon penggerak berikutnya dapat membantu memastikan bahwa kapasitas program tidak berhenti pada individu tertentu.

Lalu, bagaimana cara mengukur sustainability?
Pertanyaan penting berikutnya adalah: “kapan sebuah program CSR dapat dikatakan berkelanjutan?”
Sustainability tidak cukup diukur dari apakah kegiatan masih berlangsung setelah perusahaan pergi. Yang perlu dilihat adalah apakah manfaat, kapasitas, sistem, dan kelembagaan yang dibangun masih dapat berjalan.
Beberapa aspek yang dapat menjadi indikator antara lain:
- Kemandirian: “Apakah masyarakat dapat menjalankan kegiatan tanpa ketergantungan penuh pada pendanaan perusahaan?”
- Ownership: “Apakah masyarakat masih memiliki kemauan dan rasa memiliki terhadap program?”
- Kapasitas lokal: “Apakah pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan sudah tersedia di tingkat masyarakat?
- Kelembagaan: “Apakah terdapat sistem, kelompok, atau organisasi yang mampu mengelola kegiatan?”
- Regenerasi: “Apakah terdapat orang atau kelompok baru yang mampu meneruskan peran penggerak?”
- Sumber daya: “Apakah program memiliki sumber daya atau alternatif pendanaan untuk mempertahankan kegiatan?
- Dampak: “Apakah manfaat yang dihasilkan masih dirasakan masyarakat setelah intervensi perusahaan berakhir?”
Indikator tersebut dapat membantu perusahaan melihat sustainability secara lebih utuh. Sebab, program yang masih memiliki aktivitas belum tentu benar-benar berkelanjutan jika aktivitas tersebut masih sepenuhnya bergantung pada perusahaan.

CSR yang berkelanjutan dimulai dari cara program dirancang
Bagus Trianggono sebagai tim program Bina Swadaya Konsultan juga menyampaikan faktor yang menyebabkan CSR tidak berjalan dengan baik, yaitu:
- Desain program yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
- Tidak dilakukan asesmen dan analisis sosial yang mendalam sehingga identifikasi masalah dan pendekatan program tidak pas.
- Masyarakat lokal belum memahami program yang akan dilakukan sehingga belum bisa menerima program CSR yang di desain.
Perusahaan perlu memikirkan bukan hanya “apa yang akan diberikan?” tetapi juga “apa yang akan ditinggalkan?” Program CSR yang berkelanjutan bukan berarti perusahaan harus terus hadir selamanya. Justru salah satu tanda keberhasilan pemberdayaan adalah ketika masyarakat semakin mampu mengambil peran, sementara perusahaan dapat secara bertahap mengurangi ketergantungannya sebagai pelaksana utama.
Karena itu, merancang CSR bukan hanya tentang bagaimana program dimulai, tetapi juga tentang bagaimana program dapat terus hidup ketika pendanaan dan pendampingan perusahaan telah berakhir. (Nigar)





